Catatan Kecil
Menulis Apa Yang Ingin ku Tulis....
14 Februari 2012
Syauqul Habib Nurul Huda 2012 (An tud khilana)
Diposkan oleh
Muslim Aswaja
Kalo' yang ini, video nya Syauqul Habib. Sama-sama dapet dari YouTube, sama-sama mantap! Check it out:
11 Februari 2012
Labib Al Asyrofi Nurul Huda 2012 (Ilahunarrohman & Nuur 'Ala Nuur)
Diposkan oleh
Muslim Aswaja
Yak, ini dia video al banjari yang kutemuin di YouTube. Mantap gan! Check it out!
7 Februari 2012
Tips Kiper Futsal Bikin Gol
Diposkan oleh
Muslim Aswaja
Pernah liat pemain futsal mencetak gol? Jika udah pernah lihat pertandingan futsal, mestinya juga pernah lihat pemainnya mencetak gol. Itu tadi pemain futsal. Bagaimana dengan kiper futsal?
Lapangan futsal yang sempit, tentunya memungkinkan semua pemain mencetak gol. Tidak terkecuali si kiper. Jika di sepakbola lapangan besar sulit melakukannya (mungkin malah gara-gara faktor keberuntungan), di sepakbola lapangan besar ini agak lebih mudah, lho!
Berbagai cara bisa digunakan untuk mencetak gol bagi seorang kiper. Tetapi ingat! Tugas seorang kiper yang utama adalah menjaga gawangnya agar tidak kemasukan bola, bukan memasukan bola ke gawang lawan. yah, jadikan ini sebagai tugas selingan saja. Jika bosan, misalnya.
Berbagai cara untuk mencetak gol ada berbagai macam. Mulai dari cara biasa, semisal shooting atau heading, sampai yang luar biasa, misalnya memasukan bola kedalam kaus, lalu berlari merangsek gawang lawan. Sayangnya cara yang luar biasa itu belum pernah aku melihat yang asli, cuma bayangan di kepalaku. Tapi, ada cara yang sering dilakukan kiper futsal untuk mencetak gol loh. Yaitu dengan memanfaatkan kelengahan kiper lawan. Seperti pada beberapa cara berikut:
1. Throwing
Kayaknya inilah cara tersimpel buat nyetak gol. Ya, dengan melempar bola dalam genggaman. Kita cukup melempar bola itu kencang dan terarah. Moga-moga aja si kiper lawan salah antisipasi bola. Terus, bola masuk gawang deh! Baru tahu cara mencetak gol seperti ini? Sama, aku juga!
2. Bola Mati
Maksud bola mati di sini bukan kita menganiaya bola sampe mati. Ya emang, dimana-mana bola nggak diapa-apain juga udah mati. Lha wong bola benda mati. Maksudku di sini, kita memanfaatkan situasi bola mati (misal free kick, kick in, atau corner kick). Dengan 1-touch pass, kita langsung mengarahkan bola sekuat-kuatnya ke arah gawang.
3. Ngacir ke Depan
Ngacir ke depan. Tau maksudnya khan? Artinya, kita bukan berlari (ngacir) keluar lapangan. Ataupun ngacir ke belakang gara-gara kebelet buang air. Maksudnya kita ngacir ke depan, adalah kita berlari ke depan dengan membawa bola. Pada saat kiper lawan lengah, arahkan bola dengan keras ke arah gawang. Biasanya ini di lakukan setelah tim kita diserang, jadi pertahanan musuh lebih tebuka. Dengan kata lain, ini merupakan quick counter attack. Ingat! Kita hanya punya waktu 4 detik untuk menyelesaikannya. Jika lebih, maka wasit akan meniup peluit.
4. Drop Kick

Udah tau khan maksudnya? Yaitu kita megang bola, dilepaskan, lalu ditendang. Nah, ini merupakan trik terakhir yang kubahas kali ini. Tinggal dipegang, dilepaskan, lalu ditendang. Apa sulitnya? Jelas ada sulitnya donk! Biasanya, di lapangan futsal ada jaring penutup di bagian atas. Nah, yang susah ya mengatur supaya bola gak kena tuh jaring.
Itu tadi beberapa tips buat kiper yang terobsesi pengen nyetak gol. Meskipun keliatannya agak berhubungan dengan faktor keberuntungan, setidaknya patut dicoba.
Lapangan futsal yang sempit, tentunya memungkinkan semua pemain mencetak gol. Tidak terkecuali si kiper. Jika di sepakbola lapangan besar sulit melakukannya (mungkin malah gara-gara faktor keberuntungan), di sepakbola lapangan besar ini agak lebih mudah, lho!Berbagai cara bisa digunakan untuk mencetak gol bagi seorang kiper. Tetapi ingat! Tugas seorang kiper yang utama adalah menjaga gawangnya agar tidak kemasukan bola, bukan memasukan bola ke gawang lawan. yah, jadikan ini sebagai tugas selingan saja. Jika bosan, misalnya.
Berbagai cara untuk mencetak gol ada berbagai macam. Mulai dari cara biasa, semisal shooting atau heading, sampai yang luar biasa, misalnya memasukan bola kedalam kaus, lalu berlari merangsek gawang lawan. Sayangnya cara yang luar biasa itu belum pernah aku melihat yang asli, cuma bayangan di kepalaku. Tapi, ada cara yang sering dilakukan kiper futsal untuk mencetak gol loh. Yaitu dengan memanfaatkan kelengahan kiper lawan. Seperti pada beberapa cara berikut:
1. Throwing
Kayaknya inilah cara tersimpel buat nyetak gol. Ya, dengan melempar bola dalam genggaman. Kita cukup melempar bola itu kencang dan terarah. Moga-moga aja si kiper lawan salah antisipasi bola. Terus, bola masuk gawang deh! Baru tahu cara mencetak gol seperti ini? Sama, aku juga!
2. Bola Mati
Maksud bola mati di sini bukan kita menganiaya bola sampe mati. Ya emang, dimana-mana bola nggak diapa-apain juga udah mati. Lha wong bola benda mati. Maksudku di sini, kita memanfaatkan situasi bola mati (misal free kick, kick in, atau corner kick). Dengan 1-touch pass, kita langsung mengarahkan bola sekuat-kuatnya ke arah gawang.
3. Ngacir ke Depan
Ngacir ke depan. Tau maksudnya khan? Artinya, kita bukan berlari (ngacir) keluar lapangan. Ataupun ngacir ke belakang gara-gara kebelet buang air. Maksudnya kita ngacir ke depan, adalah kita berlari ke depan dengan membawa bola. Pada saat kiper lawan lengah, arahkan bola dengan keras ke arah gawang. Biasanya ini di lakukan setelah tim kita diserang, jadi pertahanan musuh lebih tebuka. Dengan kata lain, ini merupakan quick counter attack. Ingat! Kita hanya punya waktu 4 detik untuk menyelesaikannya. Jika lebih, maka wasit akan meniup peluit.
4. Drop Kick

Udah tau khan maksudnya? Yaitu kita megang bola, dilepaskan, lalu ditendang. Nah, ini merupakan trik terakhir yang kubahas kali ini. Tinggal dipegang, dilepaskan, lalu ditendang. Apa sulitnya? Jelas ada sulitnya donk! Biasanya, di lapangan futsal ada jaring penutup di bagian atas. Nah, yang susah ya mengatur supaya bola gak kena tuh jaring.
Itu tadi beberapa tips buat kiper yang terobsesi pengen nyetak gol. Meskipun keliatannya agak berhubungan dengan faktor keberuntungan, setidaknya patut dicoba.
3 Februari 2012
In Memoriam: Ujian Diniyah Akhir - Akhir Ini
Diposkan oleh
Muslim Aswaja
Di pondok pesantren, ada Madrasah Diniyah. Di sinilah para santri belajar kitab-kitab kuning, selain di asrama masing-masing. Model pembelajarannya sama dengan sekolah pagi, ada wali kelas, ketua kelas, peraturan, seragam, sanksi bagi yang melanggar, hari libur, dan tentu saja ada evaluasi pembelajaran atau ujian.Dulu, aku terbiasa mengikuti ujian diniyah dengan tertib. Kitab sudah ditaftis dan tam (ini salah satu syarat boleh ikut ujian), kartu peserta dan alat tulis tidak pernah ketinggalan, datang tidak pernah telat, dan tidak pernah kena ujian susulan atau remidi. Itu dulu. Sekarang, laen! Keadaan bagaikan berbalik 170 derajat (kurang dikit, udah kebalik sempurna! Masih selamet gara-gara bawa kartu peserta ujian, plus alat tulis). Mungkin jika terbalik sempurna, aku akan dapat piring cantik (dalam keadaan terbang menuju kepadaku).
Sebenarnya, kemerosotan prestasi sudah terasa sejak kelas 3. yaitu saat gak ikut ujian 2 kali. Dua-duanya gara-gara ikut Zayyin dan perkara banjari. Yang pertama, saat ujian rubu’ tsani (ada 4 rubu’ atau cawu dalam diniyah), yaitu saat aku (maksa) ikut lomba di UNDAR. Yang kedua, saat ujian kenaikan kelas, yaitu gara-gara aku diajak tanggapan (atau istilahnya ditanggap/dipanggil) ke Mojokerto dalam rangka aqiqah-an. Nggak tahu kenapa, aku tetap naik ke kelas 4. Syukur deh! (Beneran! Aku gak ikut ujian kenaikan!). Mungkin ini yang namanya “barokah sholawat”.
Sekarang, ternyata tambah parah. Jika dulu aku gak ikut ujian, pasti ada rasa bersalah. Sekarang, jangankan merasa bersalah, disuruh kembali ke asrama aku malah kegirangan. Edan tenan!
Jika ada yang bertanya-tanya kapan kejadian itu (disuruh kembali ke asrama malah kegirangan) terjadi, maka jawabannya adalah tahun 2011 akhir. Tepatnya pada rubu’ tsani pada bulan Desember. Waktu itu, kitabku belum ditaftis dan belum tam (gara-gara pulang plus rekreasi ke Bogor). Ada sedikit rasa was-was sebenarnya, tapi nggak tau juga harus ngapain. Akhirnya kujalanin juga.
Hari pertama ujian, aku ngerjain soal dengan sangat deg-deg an. Rasanya kayak mau disunat untuk kedua kalinya, menanti kedatangan Kang Bashori untuk mengusir para santri yang belum tam dari ruang ujian. Sayangnya, hari itu beliau gak datang dan mengusir kami. Jantungku deg-deg an dengan sia-sia.
Hari kedua, ternyata dia datang. “Muslim Aswaja...”. Deg! Namaku dipanggil. Aku pun keluar kelas bersama peserta yang senasib. Dia pun ceramah di depan kami, dia memasang wajah serius. Kami memasang wajah ndomblong. “Besok, jika belum tam juga, kalian tidak diperkenankan ikut ujian!”. Dia pun berlalu, masuk kelas selanjutnya. Ndomblong kami tambah parah, lebih parah dari sebelumnya. Entah kenapa wajah kami kembali normal lagi, meskipun kelihatannya gak jauh beda saat ndomblong dan saat serius. Mungkin wajah kami saat ndomblong terlihat seperti serius. Terlepas dari perkara domblong-mendomblong, kami mengerjakan ujian cepat sekali. Tidak lain dan tidak bukan adalah gara-gara solidaritas yang dijunjung tinggi. Tau soal yang berhasil kami jawab bersama-sama? Satu dari sepuluh soal berhasil kami selesaikan secara cemerlang. Lalu jawaban kami kumpulkan ke pengawas dengan kompak. (Kecerdasan kami memang selevel, pemikirannya sama semua).
Hari ketiga, ternyata kami benar-benar diusir. Dengan perasaan sebal, bingung, bercampur senang, kami tinggalkan ruang ujian. Setibanya di asrama, aku langsung melepas atribut diniyah. Seragam diniyah memang hanya sarung, baju koko, dan kopyah. Tapi jangan berpikiran aku telanjang bulat setelah melepas semua itu. Tanpa pikir panjang (seperti biasanya), langsung kurebahkan tubuhku. Jdug! Aw, sakit sekali! Aku baru ingat, disini gak ada kasur!
Hari keempat, kesalahanku pada hari sebelumnya tidak kuulangi lagi. Aku pun mengambil keputusan untuk mengambil cuti. Temanku yang kemarin diusir, tetap ngotot berangkat. “Semangat udah ngotot, otot juga harus semangat!”, katanya berapi-api. Mirip banget dengan iklan balsem otot Geliga. Gak nyambung. Oke, gayanya memang terlihat meyakinkan, wajahnya bersemangat, mata berbinar-binar, dan rambut seperti tertiup angin. Setelah dia berangkat, aku baru sadar. Dia tadi berdiri tepat disamping kipas angin yang sedang berputar kencang. Aku jadi lesu, dan tergolek lemas di asrama, sendiri. Selang beberapa menit, dia masuk kamar. “Aku diusir lagi...”, katanya dengan wajah kusut, berjalan sempoyongan, berdirinya aja mirip zombie. Rambut yang tadinya berkibar, sekarang tidak kelihatan (tertutup kopyah gitu loh). Saat itu aku merasa beruntung, ternyata keputusanku mengambil cuti tepat.
Pengen rasanya balik ke kelas 2 lagi, mengawali lagi dengan bersungguh-sungguh. Gak naik kelas aja, mungkin aku bersyukur. Pelajaran kelas 4 aja udah susah banget, apalagi kelas 5.
(NB: Penyesalan di akhir memang menyedihkan. Jadi selagi sempat, lakukanlah segalanya dengan bersungguh-sungguh. Satu lagi, jika mau ujian diniyah, pastikan kitabmu tam!)
27 Januari 2012
Alasan Baru Gak Minjemin Baju
Diposkan oleh
Muslim Aswaja
Pagi itu, aku bingung banget, baju batik yang kujemur sore sebelumnya, hilang tidak berbekas. Aku cari muter-muter jemuran, nggak ketemu. Aku pun berpikiran, mungkin terbang terbawa angin! Meskipun kupikir tidak mungkin (tentu saja gak mungkin, karena bajunya kukancingin di kawat jemuran), tetapi aku tetap keukeuh bersungut-sungut. Yang ada dalam pikiranku saat itu ada dua, “pinjam baju atau ambil cuti!”Tentu saja yang kulakukan pertama mencari pinjaman seragam batik. Aku langsung memasang headset di telinga, dan memutar sebuah lagu lewat mp4-ku. “Kini kucoba mencari penggantimu, namun tak lagi, tak seperti dirimu” – (Gaby). Hiks... Hiks...
ToT
Sasaran operasi pertama (dan satu-satunya) adalah anak MTs. Dulu, kita-kita (para santri yang terpaksa pinjem seragam, gara-gara hilang berseliweran) saat mau pinjem, enteng-enteng saja. Tinggal datang ke salah satu anak lalu mengutarakan maksud dan tujuan. Dan baju seragam dalam genggaman. Toh jika tidak dapat, temannya pasti punya.
Tetapi, jawaban anak-anak ini sungguh diluar dugaan. “Baju saya di-laundry, mas. Anak-anak satu kamar juga di-laundry semua.”, katanya, dengan gaya bicara yang menyebalkan (Ya iyalah! Meskipun gaya bicaranya gak menyebalkan, dalam kondisi seperti ini, tentu terdengar SANGAT MENYEBALKAN!). aku yang berpikir praktis (baca: berpikir pendek, gak kuat mikir yang tinggi-tinggi, atau berpikiran dangkal, otak udang), langsung putus asa. Dengan pikiran kacau dan mulut terpisuh-pisuh, aku kemali menuju kamarku. Aku pun larut dalam sujud dan do’a, “Ya Allah, apakah aku harus mengambil cuti hari ini?”.
Setelah kejadian itu (penolakan minjemin seragam batik, oleh satu kamar! Rasanya seperti dihujani kerikil. Ctak! Ctak! Aw! Aw! Sakit banget!), hatiku mendongkol. Tetapi karena aku dulu juga pernah MTs (tidak mau minjemin seragam. Khawatir hilang, gak dicuci, de el el...), aku pun memakluminya. Dongkolku berkurang.
“Itu lho bajunya nggak di-laundry. Cuma disembunyiin. Biasanya aku tahu di jemuran bawah tandon.”, salah satu teman sekamarku menjawab, setelah kuungkapkan rasa kecewaku kepada temanku itu (tentu saja dengan gaya khas sinetron Indonesia). Hatiku pun lebih dongkol dari sebelumnya.
Ternyata, bukan hanya aku yang pernah mengalami hal semacam itu. Teman satu kamarku juga banyak yang mengalaminya. Mereka banyak yang dendam. Malah, salah satu temanku punya usul, “Ntar, kalo’ ada anak MTs yang minjem kesini, kita keroyok, terus ditelanjangin, terus kita pajang di depan asrama. Sambil di iket, gitu... Gimana?”
Hening.
Sepertinya anak-anak pada gak setuju. Tentu saja, menurutku itu terlalu kejam. Sebenarnya aku punya ide, yang kurasa lebih baik daripada pendapat sebelumnya. “Guys, ntar kalo’ ada anak MTs yang minjem kesini, kita mutilasi aja jadi 5 bagian... Gimana?”. Tetapi aku urungkan penyampaian pendapatku. Meskipun aku yakin mereka semua pasti setuju. Perbuatan itu sepertinya agak mirip dengan kelakuannya Ryan dari Jombang. Seorang yang memutilasi manusia, gara-gara cemburu. Cemburunya bukan cemburu biasa. Ini adalah cemburu seorang homo (dugaannya, sih, kayak gitu!)! Aku gak mau orang sekamarku dikira kumpulan orang homo. Berterima kasihlah kawan-kawanku, karena kuurungkan pendapatku!
(NB: Kisah pencarianku terhadap seragam batik berakhir bahagia. Aku bertemu anak asal Nganjuk yang masih MTs, kebetulan dia cukup friendly-user. Aku pun dipinjami batiknya. Allah memang Maha Mendengar lagi Maha Menolong)
Langganan:
Entri (Atom)